Lewati ke konten utama
Terbaru
Lihat semua
PramukaUpdateMedia Edukasi & Informasi PramukaBaca terbaru

Peranan Pandu pada Sumpah Pemuda 1928: dari Rapat Ketiga hingga Lahirnya Pramuka

Pandu bukan penandatangan ikrar Sumpah Pemuda — tapi kepanduan dibahas khusus di rapat ketiga Kongres Pemuda II dan masuk ke dalam resolusi kongres sebagai salah satu dasar persatuan Indonesia.

Peranan Pandu pada Sumpah Pemuda 1928: dari Rapat Ketiga hingga Lahirnya Pramuka
Daftar isi5 bagian
  1. Kepanduan sudah bergerak sebelum 1928
  2. Rapat ketiga: sore yang membahas kepanduan
  3. Kepanduan masuk ke dalam resolusi kongres
  4. Setelah Sumpah Pemuda: kepanduan meledak
  5. Apa artinya buat pembina hari ini

Kalau nama Sumpah Pemuda disebut, yang terbayang biasanya Jong Java, Mohammad Yamin, dan lagu Indonesia Raya yang dimainkan W.R. Supratman dengan biola. Jarang yang ingat satu hal: pada sore hari 28 Oktober 1928, di rapat ketiga Kongres Pemuda II, para pemuda itu sempat berdebat khusus soal satu gerakan — kepanduan.

Artikel ini meluruskan satu hal sekaligus mengangkat satu hal. Yang diluruskan: pandu bukan penandatangan ikrar Sumpah Pemuda. Yang diangkat: tanpa kepanduan, cerita Sumpah Pemuda tidak lengkap — karena kongres itu sendiri menempatkan kepanduan sebagai salah satu dasar persatuan Indonesia.

Kepanduan sudah bergerak sebelum 1928

Kepanduan masuk ke Hindia Belanda pada 1912 lewat organisasi milik Belanda, Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO), yang kemudian menjadi Nederlandsch-Indische Padvinders Vereeniging (NIPV) pada 1916. Ini kepanduan kolonial — dikelola pemerintah kolonial, dan orang Indonesia tidak bisa begitu saja bergabung.

Jawaban pribumi datang pada tahun yang sama, 1916. Mangkunegara VII di Solo mendirikan Javaansche Padvinders Organisatie (JPO), organisasi kepanduan pribumi pertama, yang sama sekali lepas dari NIPV. JPO berkembang: pada 1923 cabangnya bertambah di Solo, Tasikmadu, Colomadu, Baturetno, dan Karanganyar, dan pada 1937 tercatat sekitar 6.000 anggota di 28 cabang.

Lahirnya JPO memicu organisasi sejenis: Hizbul Wathan (1918) dari Muhammadiyah, Jong Java Padvinderij (JJP) pada 1923, Nationale Padvinderij, Sarekat Islam Afdeling Pandu, hingga Pandu Pemuda Sumatra. Pada 1926, sebagian organisasi melebur dalam Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) — upaya awal menuju persatuan kepanduan.

Lalu pemerintah kolonial melarang organisasi di luar milik Belanda memakai istilah “Padvinder”. K.H. Agus Salim menjawab dengan cerdik: memakai nama “Pandu” atau “Kepanduan” untuk organisasi milik Indonesia. Jadi kata “pandu” itu sendiri lahir dari siasat melawan pembatasan kolonial — jauh sebelum kata “Pramuka” ada pada 1961.

Rapat ketiga: sore yang membahas kepanduan

Kongres Pemuda II berlangsung 27–28 Oktober 1928 dalam tiga rapat. Rapat pertama (27 Oktober malam, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond) membahas persatuan. Rapat kedua (28 Oktober pagi, Gedung Oost-Java Bioscoop) membahas pendidikan. Rapat ketiga (28 Oktober sore, Gedung Indonesische Clubgebouw) — di sinilah kepanduan dibahas.

Tiga pembicara mengangkat tema ini:

  • Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi, di samping gerakan kepanduan. Kepanduan diposisikan sebagai bagian dari bangunan nasionalisme, bukan kegiatan sampingan.
  • Ramelan mengemukakan bahwa gerakan kepanduan tidak dapat dipisahkan dari pergerakan nasional. Alasannya praktis: kepanduan sejak dini mendidik anak disiplin dan mandiri — dua hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.
  • Theo Pangemanan menegaskan bahwa pandu sejati adalah pandu yang berlandaskan semangat kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia. Dalam berbagai penulisan sejarah, pesannya diringkas menjadi: pandu tanpa semangat kebangsaan bukanlah pandu.

Rangkaian ini penting karena menunjukkan cara pandang pemuda 1928 terhadap kepanduan: bukan sekadar baris-berbaris dan tali-temali, melainkan sekolah karakter untuk perjuangan.

Kepanduan masuk ke dalam resolusi kongres

Setelah rapat ketiga, kongres ditutup dengan pembacaan keputusan oleh ketua kongres, Sugondo Djojopuspito, atas rumusan Mohammad Yamin. Isinya yang terkenal adalah tiga butir ikrar: bertumpah darah yang satu, berbangsa yang satu, dan menjunjung bahasa persatuan.

Yang sering terlewat adalah kelanjutan keputusan itu. Kongres mengeluarkan keyakinan bahwa persatuan Indonesia diperkuat dengan memperhatikan dasar persatuannya: kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kepanduan.

Kepanduan disebut sejajar dengan sejarah, bahasa, dan hukum adat sebagai fondasi persatuan. Inilah bentuk paling resmi dari “peranan pandu pada Sumpah Pemuda”: bukan sebagai penandatangan, melainkan sebagai salah satu pilar yang diakui kongres untuk menegakkan persatuan itu sendiri.

Setelah Sumpah Pemuda: kepanduan meledak

Semangat persatuan dari kongres itu menular ke dunia kepanduan. Pada tahun-tahun berikutnya berdiri Pandu Pemuda Sumatra, Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI) sebagai wadah persaudaraan antar pandu, dan pada 1938 Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI). BPPKI menggelar Perkemahan Kepanduan Indonesia Oemoem (PERKINO) — yang kemudian menjadi cikal bakal kegiatan jambore sampai sekarang.

Pada masa pendudukan Jepang, kegiatan kepanduan dilarang karena dianggap bisa memicu persatuan rakyat. Para pemuda tetap menjalankan PERKINO II untuk perjuangan kemerdekaan. Setelah merdeka, puluhan organisasi kepanduan itu akhirnya dilebur menjadi satu: Gerakan Pramuka, lewat Keputusan Presiden Nomor 238 Tahun 1961, dengan 14 Agustus sebagai Hari Pramuka.

Jadi garisnya lurus: JPO 1916, perdebatan di rapat ketiga 1928, resolusi yang menyebut kepanduan, PERKINO, lalu Pramuka 1961. Sumpah Pemuda adalah simpul di tengah garis itu — tempat kepanduan diakui sebagai bagian dari proyek persatuan Indonesia.

Apa artinya buat pembina hari ini

Pertama, kalau membina penggalang atau penegak menjelang 28 Oktober, cerita ini bahan yang kuat: Sumpah Pemuda bukan cuma teks untuk dihafal, melainkan keputusan yang lahir dari perdebatan — dan salah satu yang diperdebatkan adalah gerakan kita sendiri.

Kedua, nilai yang diperdebatkan 1928 itu masih sama dengan yang dilatih hari ini: disiplin dan mandiri sejak dini (Ramelan), serta semangat kebangsaan sebagai syarat menjadi pandu sejati (Theo Pangemanan). Bedanya hanya nama: dulu pandu, sekarang Pramuka.

Ketiga, untuk upacara Sumpah Pemuda, artikel ini bisa dipasangkan dengan naskah amanat pembina upacara dan teks asli 1928 — ketiganya saling melengkapi: naskah untuk dibaca, teks asli untuk dipahami, dan kisah pandu untuk diceritakan.

Baca juga dalam seri Sumpah Pemuda:

  • Contoh Amanat Pembina Upacara Sumpah Pemuda 2026 — /artikel/contoh-amanat-pembina-upacara-sumpah-pemuda-2026
  • Teks Sumpah Pemuda asli 1928 & ejaan sekarang — /artikel/teks-sumpah-pemuda-asli-1928-dan-ejaan-sekarang
  • Pramuka Garuda: syarat, tahapan, tips — /artikel/pramuka-garuda-syarat-tahapan-dan-tips-meraihnya

Sumber: penulisan sejarah Kongres Pemuda II (tiga rapat 27–28 Oktober 1928, Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, Oost-Java Bioscoop, dan Indonesische Clubgebouw); riwayat kepanduan Indonesia (NPO 1912, NIPV 1916, JPO 1916, JJP 1923, INPO 1926, BPPKI 1938, PERKINO, Keppres 238/1961); Jurnal CANDI Vol. 13 No. 1 (2016) tentang JPO di Mangkunegaran 1916–1942.

Ekosistem Pramuka Digital

Setelah membaca, lanjut praktik.

Gunakan organisasi sebagai bahan awal, lalu lanjutkan ke challenge/materi terstruktur di MateriPramuka dan simpan pencapaianmu di Pramuka.net.

Bagikan

Produk terkait

Produk yang nyambung dengan tulisan ini.

Pilihan produk ini dipilih karena masih satu konteks dengan organisasi dan bisa membantu pembaca memakai materi artikel secara lebih praktis.

Semua produk

Saluran WhatsApp PramukaUpdate

Dapatkan tulisan pilihan, ide konten, dan info produk digital tanpa harus mengecek website setiap hari.

Bergabung di channel WhatsApp