Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama di bidang pertanian dan pembinaan generasi muda. Penandatanganan berlangsung di Cibubur, Jakarta Timur, pada 18 Agustus 2026.[1]
Kerja sama ini penting karena pertanian bukan hanya urusan produksi pangan. Bagi peserta didik, pertanian dapat menjadi ruang belajar untuk memahami lingkungan, ketekunan, pengelolaan sumber daya, dan hubungan antara kebiasaan sehari-hari dengan ketahanan pangan.
Apa yang dibahas dalam kerja sama Kwarnas dan HKTI?
Menurut keterangan resmi Kwarnas, nota kesepahaman ditandatangani oleh Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka Budi Waseso dan perwakilan HKTI, Sudaryono. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendorong keterlibatan generasi muda dalam mengenal serta mengembangkan sektor pertanian Indonesia.[1]
Keterangan itu juga menyebut peluang kegiatan edukasi, pelatihan, dan pengenalan inovasi pertanian. Bentuk kegiatan akhirnya tetap perlu dirumuskan melalui program dan kesepakatan teknis tersendiri. Karena itu, belum tepat menganggap semua contoh kegiatan sebagai program yang sudah resmi berjalan.
Mengapa topik pertanian relevan bagi Pramuka?
Kegiatan pertanian mudah dihubungkan dengan metode kepramukaan jika dirancang sebagai pengalaman langsung. Peserta dapat mengamati kebutuhan tanaman, mencatat perubahan, merawat kebun kecil, atau membahas cara mengurangi sisa makanan. Proses tersebut melatih tanggung jawab tanpa harus mengubah latihan menjadi kelas teori semata.
Pertanian juga memberi konteks untuk membicarakan ketahanan pangan. Peserta tidak hanya mendengar istilah tersebut, tetapi melihat bahwa pangan berkaitan dengan tanah, air, pilihan konsumsi, kerja petani, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pembina dapat menautkan kegiatan ini dengan materi lingkungan dan proyek bakti yang sudah dikenal di Gugus Depan. Yang penting, tujuan belajarnya dibuat jelas: apakah peserta ingin mengenal tanaman pangan, belajar membuat catatan pengamatan, memahami pemakaian air, atau menyusun aksi sederhana di sekolah.
Contoh kegiatan yang dapat disiapkan Gugus Depan
Berikut beberapa contoh awal yang dapat dikembangkan setelah ada koordinasi dengan pihak yang kompeten. Contoh ini merupakan ide editorial, bukan rincian program yang diumumkan dalam MoU.
1. Kebun belajar regu
Setiap regu merawat satu petak kecil atau beberapa wadah tanam. Peserta mencatat jenis tanaman, jadwal penyiraman, kondisi daun, dan perubahan yang terlihat. Pembina dapat menilai konsistensi pengamatan, pembagian tugas, serta kemampuan peserta menjelaskan hasilnya.
2. Kunjungan dan wawancara petani
Jika tersedia mitra dan izin yang sesuai, peserta dapat mengunjungi lahan pertanian atau mengundang petani sebagai narasumber. Pertanyaan sebaiknya disiapkan lebih dulu agar kegiatan tidak berubah menjadi kunjungan seremonial. Peserta dapat menanyakan tantangan musim, pengelolaan air, atau cara menjaga kualitas tanah.
3. Percobaan sederhana tentang air dan tanah
Regu dapat membandingkan cara penyiraman, membuat catatan kelembapan secara sederhana, atau mengamati perbedaan media tanam. Kegiatan harus menggunakan bahan yang aman dan pendampingan yang memadai. Tidak perlu membuat klaim ilmiah besar dari pengamatan singkat.
4. Peta pangan di sekitar sekolah
Peserta memetakan sumber pangan atau ruang hijau di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Hasilnya dapat berupa peta manual, daftar tanaman, atau catatan kebutuhan perawatan. Data pribadi warga dan lokasi sensitif tidak perlu dimasukkan.
Hal yang perlu disiapkan pembina
Sebelum membuat kegiatan, pembina perlu menentukan tujuan, mitra, lokasi, alat, pembagian peran, dan prosedur keselamatan. Kegiatan dengan tanah, alat kebun, atau kunjungan lapangan tetap membutuhkan pengawasan dan penyesuaian usia.
Jika melibatkan pihak luar, tuliskan ruang lingkup kerja sama dengan jelas. Bedakan antara dukungan narasumber, penyediaan alat, pelatihan, dan pendampingan. Dokumentasi foto juga perlu memperhatikan izin serta privasi peserta.
Penutup
MoU antara Kwarnas dan HKTI memperluas percakapan tentang bagaimana Pramuka dapat mengenalkan pertanian dan ketahanan pangan kepada generasi muda. Peluang itu akan bermakna jika diterjemahkan menjadi kegiatan yang aman, terukur, dan memberi pengalaman langsung kepada peserta.
Bagi Gugus Depan, langkah awalnya tidak harus besar. Mulailah dari tujuan belajar yang jelas, kegiatan yang sesuai kondisi sekolah, serta mitra yang benar-benar memahami bidangnya.
Sources
Setelah membaca, lanjut praktik.
Gunakan organisasi sebagai bahan awal, lalu lanjutkan ke challenge/materi terstruktur di MateriPramuka dan simpan pencapaianmu di Pramuka.net.
Produk yang nyambung dengan tulisan ini.
Pilihan produk ini dipilih karena masih satu konteks dengan organisasi dan bisa membantu pembaca memakai materi artikel secara lebih praktis.

Paket program kegiatan Pramuka berbasis SKU untuk 1 tahun latihan. Berisi file Word dan Excel siap edit untuk Siaga, Penggalang, dan Penegak.
Cocok untuk: Pembina Pramuka, guru, pembina gugus depan, dan pengurus satuan yang ingin menyusun latihan tahunan berbasis SKU tanpa mulai dari nol.

Kumpulan file desain grafis kepramukaan edisi 2025 siap pakai. Berisi template feeds Instagram, poster kegiatan, banner, dan elemen grafis orisinal berformat Canva, EPS, dan CDR.
Cocok untuk: Humas kwartir, admin media sosial gudep, panitia kegiatan Pramuka, dan pembina yang butuh desain promosi cepat dan profesional.

E-book berisi 30 pesan inspiratif Baden-Powell yang dikembangkan menjadi bahan refleksi dan panduan implementasi untuk Pramuka Indonesia saat ini.
Cocok untuk: Pembina Pramuka, peserta didik, Dewan Ambalan, Dewan Racana, Gudep, Kwartir, pelatih, dan pegiat pendidikan karakter.
