Lewati ke konten utama
PramukaUpdateMedia Edukasi & Informasi PramukaBaca terbaru
Terbaru
Lihat semua

Kegiatan Hari PBB untuk Mengenal Kerja Sama Dunia

Rangkaian kegiatan Hari PBB untuk sekolah dan Pramuka: mengenal masalah bersama, memetakan peran, berdialog, dan membuat aksi kecil yang bisa diperiksa hasilnya.

Kegiatan Hari PBB untuk Mengenal Kerja Sama Dunia
Daftar isi9 bagian
  1. Apa yang perlu dipahami siswa?
  2. 1. Peta masalah bersama dari halaman sekolah
  3. 2. Simulasi meja kerja lintas peran
  4. 3. Permainan jembatan informasi
  5. 4. Forum “setuju, belum yakin, perlu bukti”
  6. 5. Proyek aksi lokal selama tujuh hari
  7. Contoh susunan kegiatan 100 menit
  8. Cara mengevaluasi tanpa membuat lomba
  9. Sources

Hari PBB pada 24 Oktober dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan kerja sama dunia tanpa membuat kegiatan sekolah terasa seperti kuliah hubungan internasional. Siswa dapat diajak melihat bahwa banyak masalah—kebencanaan, lingkungan, kesehatan, pendidikan, dan perdamaian—tidak selesai jika setiap orang bekerja sendiri. Dari sana, pembina dan guru bisa menghubungkan gagasan besar itu dengan kerja regu: mendengar, membagi peran, menyepakati aturan, lalu memeriksa hasil bersama.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Hari PBB memperingati berlakunya Piagam PBB pada 24 Oktober 1945. Peringatan ini juga menjadi kesempatan untuk menegaskan kembali tujuan dan prinsip kerja sama yang menjadi dasar organisasi tersebut.[1] Artikel ini tidak mengajak sekolah membuat simulasi diplomasi yang rumit. Fokusnya adalah kegiatan sederhana, aman, dan sesuai usia yang membantu siswa memahami mengapa kerja sama membutuhkan tujuan yang jelas, informasi yang dapat diperiksa, serta penghormatan terhadap perbedaan.

Dalam konteks Pramuka, pendekatan tersebut sejalan dengan metode kegiatan berkelompok, bekerja sama, belajar sambil melakukan, dan kehadiran orang dewasa yang memberi bimbingan.[2][3] Guru atau pembina tetap perlu menyesuaikan contoh dengan usia, waktu, kemampuan peserta, dan kondisi sekolah.

Apa yang perlu dipahami siswa?

Sebelum memilih permainan, tetapkan dua atau tiga tujuan belajar. Misalnya, siswa diharapkan dapat menjelaskan arti kerja sama, membedakan kepentingan bersama dan kepentingan kelompok, serta menyusun satu tindakan lokal yang realistis. Tujuan yang terbatas membuat kegiatan tidak melebar menjadi daftar panjang isu dunia.

Tekankan pula bahwa kerja sama dunia bukan berarti semua negara, organisasi, atau orang selalu sepakat. Dalam sebuah kelompok, perbedaan pendapat justru akan muncul. Yang dipelajari adalah cara menyampaikan alasan, mendengarkan informasi baru, mencari titik temu, dan membuat keputusan yang tidak merugikan pihak yang lebih rentan.

Kegiatan tidak perlu mengajak siswa menilai negara tertentu, mengulang stereotip budaya, atau membahas konflik secara dramatis. Gunakan contoh umum yang dekat dengan lingkungan sekolah. Jika topik sensitif muncul, guru mengarahkan pembahasan pada kebutuhan kemanusiaan, keselamatan, dan cara mencari informasi resmi.

1. Peta masalah bersama dari halaman sekolah

Bagi peserta ke dalam regu kecil. Berikan setiap regu kertas besar dan minta mereka membuat peta masalah yang bisa dirasakan di sekolah, seperti sampah, akses air bersih, keamanan saat hujan, perundungan, atau kesulitan memperoleh bahan belajar. Pada tahap pertama, mereka hanya menulis masalah dan siapa yang terdampak. Belum perlu mencari solusi.

Tahap kedua adalah menghubungkan masalah lokal dengan kerja sama yang lebih luas. Contohnya, pengelolaan sampah dapat dikaitkan dengan kebiasaan warga, layanan sekolah, pemerintah daerah, dan edukasi lingkungan. Peserta tidak perlu mengklaim bahwa satu masalah pasti sama di semua negara. Cukup ajak mereka melihat bahwa masalah publik biasanya melibatkan banyak pihak.

Setiap regu lalu memilih satu masalah yang paling mungkin dipelajari lebih lanjut. Mereka menuliskan pertanyaan: informasi apa yang belum diketahui, siapa yang perlu diajak bicara, dan keputusan apa yang berada dalam kendali sekolah? Peta ini membantu siswa membedakan hal yang dapat mereka lakukan dari hal yang memerlukan kebijakan lebih besar.

2. Simulasi meja kerja lintas peran

Pilih satu skenario aman, misalnya halaman sekolah sering tergenang setelah hujan atau tempat sampah terpilah tidak digunakan dengan baik. Berikan peran berbeda kepada peserta: siswa, guru, petugas kebersihan, keluarga, pengelola kantin, dan pengurus lingkungan. Peran tersebut bukan untuk meniru orang tertentu, melainkan untuk menunjukkan bahwa setiap pihak mempunyai kebutuhan dan batas kerja.

Tugas regu adalah menyusun rencana tiga langkah yang dapat diterima sebanyak mungkin pihak. Mereka harus menuliskan siapa melakukan apa, kapan dilakukan, alat yang diperlukan, dan cara mengecek hasil. Beri batasan nyata, misalnya waktu hanya satu minggu dan anggaran sangat terbatas.

Setelah presentasi singkat, kelompok lain boleh mengajukan pertanyaan klarifikasi. Hindari penilaian berdasarkan siapa yang paling cepat atau paling keras berbicara. Nilai prosesnya: apakah semua peran didengar, apakah rencana aman, dan apakah tanggung jawabnya jelas. Inilah bagian penting dari kerja sama: keputusan yang bagus perlu diterjemahkan menjadi pekerjaan yang dapat dilakukan.

3. Permainan jembatan informasi

Buat dua kelompok yang menerima informasi berbeda tentang sebuah tugas. Misalnya, kelompok pertama memiliki denah area, sedangkan kelompok kedua memiliki daftar batas keselamatan dan alat yang tersedia. Mereka tidak boleh langsung mengambil kertas kelompok lain. Untuk menyelesaikan tugas, mereka harus bertanya, mencatat jawaban, lalu menyusun satu rencana bersama.

Gunakan tugas yang tidak berbahaya, seperti menentukan urutan pos pembelajaran di halaman sekolah atau menata kartu langkah pemilahan sampah. Setelah selesai, tanyakan bagian mana yang membuat mereka salah paham. Apakah instruksinya tidak jelas? Apakah ada anggota yang tidak sempat bicara? Apakah informasi penting hanya dikuasai satu orang?

Dari permainan ini, pembina dapat memperkenalkan kebiasaan praktis: mengulang kesepakatan dengan kata-kata sendiri, menandai informasi yang belum pasti, serta meminta klarifikasi sebelum bertindak. Kebiasaan tersebut relevan dalam regu maupun dalam kerja sama antarlembaga.

4. Forum “setuju, belum yakin, perlu bukti”

Siapkan beberapa pernyataan umum, misalnya “masalah lingkungan dapat selesai jika semua orang diberi poster”, “informasi dari media sosial selalu cukup untuk mengambil keputusan”, atau “kerja sama akan berhasil jika satu pihak menjadi pemimpin tunggal”. Peserta berdiri atau menempelkan kartu pada tiga kategori: setuju, belum yakin, dan perlu bukti.

Jangan meminta siswa membuka pengalaman pribadi. Tujuan forum adalah melatih alasan dan verifikasi, bukan mencari siapa yang paling benar. Minta setiap regu menjelaskan bukti apa yang mereka butuhkan. Sumbernya dapat berupa aturan sekolah, pengamatan lapangan, wawancara dengan pihak terkait, atau laman resmi lembaga yang relevan.

Pendekatan ini sejalan dengan gagasan pendidikan kewarganegaraan global yang mendorong peserta didik berperan aktif menghadapi tantangan bersama dan membangun dunia yang lebih damai, toleran, inklusif, serta aman.[4] Untuk siswa, gagasan itu cukup diterjemahkan menjadi kebiasaan memeriksa informasi dan menghormati orang yang terdampak keputusan.

5. Proyek aksi lokal selama tujuh hari

Tutup rangkaian dengan aksi kecil. Contohnya, regu menyusun panduan singkat penggunaan titik air minum, membuat jadwal pemeriksaan kebersihan setelah kegiatan, memetakan jalur aman menuju ruang kelas, atau mengadakan sesi berbagi cara memeriksa informasi. Pilih satu tindakan saja agar dapat diselesaikan dan dievaluasi.

Rencana aksi wajib mencantumkan tujuan, penanggung jawab, waktu, izin yang diperlukan, dan ukuran keberhasilan. Ukuran itu harus dapat diamati. Misalnya, bukan “membuat sekolah lebih peduli”, melainkan “selama lima hari, regu mencatat apakah area yang dipilih sudah diperiksa sesuai jadwal dan melaporkan hambatannya kepada pembina”.

Pastikan aksi tidak mengganggu layanan sekolah, tidak mengambil foto orang tanpa izin, dan tidak membuat peserta masuk ke area berbahaya. Jika menyentuh fasilitas, data siswa, kesehatan, atau keselamatan, mintalah persetujuan pihak yang berwenang. Siswa belajar kerja sama bukan dengan mengambil alih tugas orang dewasa, melainkan dengan menjalankan bagian yang sesuai kemampuan mereka.

Contoh susunan kegiatan 100 menit

Rangkaian berikut bisa dipakai untuk satu pertemuan:

  1. Sepuluh menit: pengantar Hari PBB, tujuan, dan aturan berdiskusi.
  2. Dua puluh menit: membuat peta masalah lokal.
  3. Dua puluh menit: simulasi meja kerja lintas peran.
  4. Lima belas menit: permainan jembatan informasi.
  5. Lima belas menit: forum “setuju, belum yakin, perlu bukti”.
  6. Lima belas menit: menyusun rencana aksi tujuh hari.
  7. Lima menit: komitmen, pembagian tugas, dan penutup.

Untuk Siaga, gunakan gambar, cerita pendek, dan tugas memilah pilihan sederhana. Penggalang dapat mengerjakan peta masalah dan pembagian peran. Penegak dapat menambahkan wawancara singkat, pemeriksaan sumber, serta evaluasi dampak. Penyesuaian usia lebih penting daripada menjejalkan semua aktivitas dalam satu pertemuan.

Cara mengevaluasi tanpa membuat lomba

Gunakan tiga pertanyaan refleksi: hal apa yang berubah dari pemahaman saya tentang kerja sama, informasi apa yang masih perlu saya periksa, dan tindakan apa yang dapat saya lakukan tanpa menunggu orang lain? Pembina juga dapat menilai apakah pembagian peran berjalan, apakah peserta yang pendiam mendapat ruang, dan apakah keputusan kelompok memiliki penanggung jawab.

Jangan mengubah kegiatan menjadi kompetisi antarnegara atau antarbudaya. Kerja sama dunia bukan panggung untuk menentukan kelompok mana yang paling unggul. Ukuran keberhasilannya adalah kemampuan peserta membuat keputusan yang lebih jelas, aman, dan bertanggung jawab.

Jika ingin melanjutkan tema ini, sekolah dapat menghubungkannya dengan kegiatan Hari Guru Sedunia untuk sekolah atau proyek kota aman untuk kelas. Keduanya dapat menjadi contoh bahwa isu besar perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang dekat dengan kehidupan siswa.

Hari PBB tidak harus dirayakan dengan acara besar. Satu regu yang belajar membagi informasi, mendengar pihak lain, dan menepati tugas kecil sudah berlatih menjadi bagian dari kerja sama yang lebih luas. Dari proses itu, siswa dapat melihat bahwa dunia yang saling terhubung membutuhkan kebiasaan sederhana: bertanya sebelum menyimpulkan, memeriksa sebelum menyebarkan, dan bekerja bersama tanpa menghilangkan tanggung jawab masing-masing.

Sources

[1] https://www.un.org/en/observances/un-day [2] https://pramuka.or.id/gerakan-pramuka [3] https://pramuka.or.id/files/document/AD-ART-GP-2019.pdf [4] https://kniu.kemdikbud.go.id/page/sektor/pendidikan/global-citizenship-education

Ekosistem Pramuka Digital

Setelah membaca, lanjut praktik.

Gunakan pendidikan sebagai bahan awal, lalu lanjutkan ke challenge/materi terstruktur di MateriPramuka dan simpan pencapaianmu di Pramuka.net.

Bagikan

Produk terkait

Produk yang nyambung dengan tulisan ini.

Pilihan produk ini dipilih karena masih satu konteks dengan pendidikan dan bisa membantu pembaca memakai materi artikel secara lebih praktis.

Semua produk

Saluran WhatsApp PramukaUpdate

Dapatkan tulisan pilihan, ide konten, dan info produk digital tanpa harus mengecek website setiap hari.

Bergabung di channel WhatsApp