Lewati ke konten utama
PramukaUpdateMedia Edukasi & Informasi Pramuka

MPLS dan Kiasan Dasar: Cara Mengenalkan Nilai Sekolah

Kiasan dasar dapat dipakai secara hati-hati dalam MPLS untuk membantu Pramuka Penggalang memahami nilai sekolah melalui pengalaman, bukan jargon atau hafalan.

MPLS dan Kiasan Dasar: Cara Mengenalkan Nilai Sekolah
Daftar isi9 bagian
  1. Bedakan kiasan dasar dari slogan
  2. Tiga nilai sekolah yang dapat diolah
  3. 1. Rasa aman dan saling menghormati
  4. 2. Tanggung jawab terhadap lingkungan
  5. 3. Arah belajar dan kemandirian
  6. Alur kegiatan 75 menit
  7. Batas aman penggunaan simbol
  8. Cara mengevaluasi keberhasilan
  9. Sources
/ cari  ·  b simpan

MPLS dan Kiasan Dasar: Cara Mengenalkan Nilai Sekolah

Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) sering diisi penjelasan tentang aturan, ruang, jadwal, dan kebiasaan belajar. Semua itu penting, tetapi murid baru juga perlu memahami mengapa nilai sekolah harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Di sinilah kiasan dasar dalam pendidikan kepramukaan dapat menjadi jembatan, asalkan digunakan sebagai alat bantu memahami pengalaman, bukan sebagai hiasan kata-kata.

Kemendikdasmen menempatkan MPLS Ramah sebagai proses untuk mengenalkan warga sekolah, lingkungan, proses pembelajaran, dan budaya sekolah agar murid merasa aman serta nyaman.[1] Artinya, penggunaan cerita atau simbol dalam MPLS harus membantu peserta merasa diterima. Tidak boleh ada permainan yang menakut-nakuti, pemaksaan pengakuan pribadi, atau perlombaan yang menjadikan peserta yang lambat sebagai bahan tertawaan.

Kwarnas menjelaskan bahwa kiasan dasar merupakan salah satu unsur dalam pendidikan kepramukaan yang dapat mengembangkan imajinasi sesuai usia dan mendorong kreativitas serta keikutsertaan peserta didik.[2] Untuk Pramuka Penggalang, pembina dapat memakai kiasan sederhana yang dekat dengan kehidupan sekolah: jembatan sebagai gambaran kerja sama, kompas sebagai gambaran arah dan pertimbangan, atau taman sebagai gambaran lingkungan yang dirawat bersama. Simbol tersebut bukan doktrin dan tidak boleh dipaksakan menjadi satu tafsir untuk semua anak.

Bedakan kiasan dasar dari slogan

Slogan biasanya berupa kalimat pendek yang mudah diulang. Kiasan dasar lebih dekat dengan cara membungkus kegiatan melalui gambaran atau cerita yang mengundang peserta berpikir. Perbedaannya penting. Jika pembina hanya meminta regu meneriakkan “kami disiplin, kami kompak” tanpa pengalaman yang mendukung, peserta mungkin menghafal kata tetapi tidak memahami perilaku yang diharapkan.

Sebaliknya, pembina dapat mengajak regu menyeberangi “jembatan kerja sama” yang dibuat dari tugas-tugas aman: menyusun urutan langkah tur sekolah, membagi alat, mendengar ide anggota, lalu mengevaluasi keputusan. Setelah kegiatan, peserta diajak bertanya: tindakan mana yang membuat kelompok bisa bergerak? Siapa yang belum mendapat kesempatan? Apa yang dapat dilakukan agar kerja sama tidak berarti satu orang mengerjakan semuanya?

Kiasan harus tetap transparan. Pembina boleh mengatakan bahwa jembatan dipakai sebagai gambaran hubungan saling membantu. Peserta boleh memiliki tafsir lain selama tidak bertentangan dengan tujuan kegiatan dan aturan keselamatan. Dengan cara itu, kiasan menjadi pintu percakapan, bukan alat untuk menilai apakah anak memahami “jawaban yang benar”.

Tiga nilai sekolah yang dapat diolah

1. Rasa aman dan saling menghormati

Nilai pertama dapat digambarkan melalui “rumah bersama”. Setiap regu mendapat bahan sederhana seperti kartu warna, tali, atau balok kayu untuk membuat model ruang belajar yang nyaman. Pembina tidak menilai bentuk paling bagus. Fokusnya adalah keputusan kelompok: apakah semua anggota punya ruang bicara, bagaimana mereka meminta izin menggunakan alat, dan apa yang dilakukan jika ada pendapat berbeda.

Setelah model selesai, pembina menghubungkannya dengan perilaku nyata. Ruang aman berarti tidak mengejek nama, tubuh, logat, agama, kondisi fisik, atau latar belakang teman. Aman juga berarti tahu kepada siapa harus melapor jika terjadi ancaman atau perundungan. Peserta tidak diminta menceritakan pengalaman buruk pribadi di depan regu. Contoh situasi dapat dibuat fiktif dan dibahas tanpa menyebut identitas.

2. Tanggung jawab terhadap lingkungan

Gunakan kiasan “taman yang dirawat bersama” untuk mengajak peserta mengenal fasilitas sekolah. Regu melakukan observasi singkat terhadap titik yang disepakati: tempat sampah, kran air, taman, perpustakaan, atau ruang kelas. Mereka mencatat kebiasaan yang membantu menjaga lingkungan, lalu memilih satu tindakan kecil yang bisa dilakukan selama seminggu.

Tindakan itu harus terukur dan tidak membebani petugas kebersihan. Contohnya, regu memastikan alat kegiatan dikembalikan, memisahkan sampah sesuai fasilitas yang tersedia, atau melaporkan kran bocor kepada pihak sekolah. Hindari kegiatan yang menjadikan murid menyentuh limbah berbahaya atau membersihkan area tanpa alat dan pengawasan.

3. Arah belajar dan kemandirian

Kompas dapat menjadi kiasan untuk menentukan arah, bukan jaminan bahwa semua peserta sudah memiliki tujuan hidup. Pembina menyiapkan beberapa skenario: anggota regu tersesat menuju ruang kegiatan, lupa jadwal, atau tidak tahu cara meminta bantuan. Peserta memilih langkah aman, memeriksa informasi, dan membandingkan keputusan.

Kegiatan ini dapat ditutup dengan “kompas pribadi” yang sederhana. Setiap peserta menulis satu kebiasaan belajar yang ingin dicoba, satu orang dewasa yang dapat dimintai bantuan, dan satu cara menjaga diri ketika merasa kewalahan. Kertas tidak harus dikumpulkan. Jika dikumpulkan untuk evaluasi, hapus nama dan simpan sesuai kebutuhan yang jelas.

Alur kegiatan 75 menit

Sepuluh menit pertama dipakai untuk cerita pembuka. Cerita harus singkat, tidak mengambil kisah pribadi peserta, dan menjelaskan bahwa simbol akan dipakai untuk berpikir. Lima belas menit berikutnya digunakan untuk membentuk regu serta membagi peran: penjaga alat, pencatat, penyaji, pengamat waktu, dan penghubung dengan pembina. Peran dapat diputar agar tidak ada anak yang selalu menjadi pemimpin atau selalu diam.

Dua puluh lima menit berikutnya adalah kegiatan utama. Pilih satu kiasan saja agar fokus. Jika memakai “jembatan”, regu dapat menyusun rute bantuan bagi murid baru dengan kartu lokasi dan kartu peran. Jika memakai “taman”, regu dapat mengamati kebiasaan menjaga lingkungan. Jika memakai “kompas”, regu memecahkan skenario orientasi yang aman.

Lima belas menit terakhir digunakan untuk presentasi singkat. Setiap regu menjawab tiga pertanyaan: apa arti kiasan bagi kelompok kami, perilaku apa yang ingin kami lakukan, dan bantuan apa yang dibutuhkan agar perilaku itu mungkin. Lima menit penutup dipakai untuk menyepakati satu tindakan yang realistis dan mengingatkan jalur pelaporan di sekolah.

Batas aman penggunaan simbol

Kiasan dasar tidak boleh menghapus identitas atau pengalaman peserta. Hindari meminta anak menyamakan dirinya dengan benda tertentu, memilih siapa yang menjadi “beban”, atau menampilkan peserta yang dianggap paling lemah. Jangan menggunakan simbol untuk membenarkan senioritas, hukuman, atau kepatuhan tanpa pertanyaan. Kegiatan kepramukaan harus tetap memperhatikan prinsip dasar, metode, dan suasana pendidikan yang menarik, menantang, serta mengandung pendidikan.[3]

Pembina juga perlu menghindari klaim bahwa satu simbol memiliki arti resmi yang berlaku untuk semua sekolah. Kiasan yang dipilih untuk MPLS adalah rancangan pedagogis lokal. Jika mengambil istilah yang memang memiliki makna dalam tradisi Gerakan Pramuka, jelaskan konteksnya dan jangan mencampurkannya dengan lambang resmi secara sembarangan.

Cara mengevaluasi keberhasilan

Evaluasi tidak perlu berupa tes hafalan. Amati apakah peserta mampu menjelaskan hubungan antara simbol dan tindakan, berbagi tugas, mendengar pendapat, serta mengenali jalur bantuan. Tanyakan pula apakah ada bagian yang membuat peserta tidak nyaman. Catatan pembina sebaiknya menggunakan deskripsi perilaku, bukan label seperti “anak malas” atau “anak tidak kompak”.

Kiasan dasar dalam MPLS akan bermanfaat ketika peserta pulang membawa pemahaman yang bisa dilakukan: menyapa warga sekolah, menjaga fasilitas, meminta bantuan, dan memberi ruang kepada teman. Nilai sekolah tidak berhenti pada kata-kata di spanduk. Ia tumbuh melalui pengalaman kecil yang aman, berulang, dan dapat direfleksikan bersama.

Sources

[1] https://cerdasberkarakter.kemendikdasmen.go.id/mplsramah [2] https://pramuka.or.id/files/document/SK-200-2011-Panduan-Kursus-Pembina-Pramuka-Mahir.pdf [3] https://pramuka.or.id/files/document/SK-119-2011-Panduan%20Penyelesaian-SKU-Siaga.pdf

Ekosistem Pramuka Digital

Setelah membaca, lanjut praktik.

Gunakan pendidikan sebagai bahan awal, lalu lanjutkan ke challenge/materi terstruktur di MateriPramuka dan simpan pencapaianmu di Pramuka.net.

Bagikan
Pertanyaan umum

Ringkasan tanya jawab

Simak cara menggunakan kiasan dasar Pramuka dalam MPLS untuk mengenalkan nilai sekolah melalui cerita, kegiatan beregu, simbol sederhana, dan refleksi yang aman.

Artikel ini berguna untuk pembina Pramuka, peserta didik, pengurus gugus depan, dan pembaca yang membutuhkan rujukan praktis tentang pendidikan.

Gunakan daftar isi untuk memilih bagian yang paling relevan, lalu jadikan poin-poin utamanya sebagai bahan diskusi, catatan pembinaan, atau rujukan saat menyiapkan kegiatan.

Saluran WhatsApp PramukaUpdate

Dapatkan tulisan pilihan, ide konten, dan info produk digital tanpa harus mengecek website setiap hari.

Bergabung di channel WhatsApp